Tuesday, April 26, 2016

Assiry : Sang Maestro Kaligrafi dari Ndeso

Siapa yang hari ini tidak mengenal Assiry, panggilan akrab Muhammad Assiry Jasiri, founding father sekaligus pimpinan Pesantren Kaligrafi Al Qur’an PSKQ Kudus Jawa Tengah. Dia adalah wong ndeso yang prestasi dan rejekinya mendunia, sang maestro kaligrafi dengan sejuta prestasi. Assiry merupakan putra ke 6 dari 9 saudara dari pasangan Sudiro Yasir dan Kadarsih warga desa Undaan Lor Kecamatan Undaan Kab. Kudus.

Bakat dari kecil
Di usia 5 tahun Assiry kecil tidak jauh berbeda dari anak-anak seusianya yang suka bermain dan bersenda gurau, tapi ada yang unik bahkan nyleneh dengan kebanyakan anak-anak lainya. Ia hobi corat-coret di kertas, papan tulis bahkan sampai dinding rumah tetangganya tak luput dari sasaran tangan kreatifnya. Sampai-sampai ia pernah dijewer oleh tetangganya. Hobinya melukis tidak sia-sia. Sejak taman kanak-kanak Assiry kecil kerap meraih juara lomba melukis kategori anak-anak tingkat kecamatan.
Namun sayang, hobinya yang terfokus pada bidang seni membuat ia tidak menyenangi pelajaran berhitung dan angka-angka layaknya matematika dan fisika, ia hanya menyenangi mata pelajaran sejarah dan mengarang. Perkenalanya dengan dunia kaligrafi dimulai sejak ia masuk Madrasah Diniyah Ibtidaiyah di bawah asuhan dan bimbingan Kyai Abdul Hafidz.
Bakat seninya semakin terasah ketika ia masuk Madrasah Aliyah Negeri, disana Asiry muda mendapat gemblengan dari jawara-jawara kaligrafi seperti Ustadz H. Nur Syukron (peraih juara 1 kaligrafi nasional tahun 1994 di Riau). Disamping belajar di sekolah Assiry belajar kaligrafi pada Ustadz H. Nur Aufa Siddiq, berkat bimbingan kedua seniman kaligrafi tersebut, Assiry lebih banyak mengenal kaidah kaligrafi murni.

Prestasi Pengantar Kesuksesan
Pada tahun 1999 Assiry berhasil menorehkan tinta emas, terbukti dengan raihan juara 1 kaligrafi cabang Naskah tingkat Jawa Tengah dan secara otomatis ia mewakili Jawa Tengah pada MTQ Nasional di Palu Sulawesi Tengah meskipun hanya meraih juara harapan. Assiry tidak mengenal putus asa, keinginanya untuk total dan profesional dalam berkesenian mengantarkan pria ndeso ini hijrah ke Jakarta untuk belajar dan mendalami Ilmu Seni Rupa dan belajar melukis kepada kakaknya, Rosidi pendiri WADAH ART serta melanjutkan pengembaraan ilmunya pada tahun 2000 di Pesantren Kaligrafi Al Qur’an LEMKA, Sukabumi Jawa Barat di bawah bimbingan dan asuhan KH. Drs. Didin Sirojuddin AR selama satu tahun. Setelah melanglang buana ke berbagai tempat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk nyantri di Pesantren An-Nidzom, Panjalu di bawah asuhan KH. Muhtar, karena keinginanya untuk mendalami kaligrafi secara total, Assiry akhirnya memutuskan untuk kembali belajar di LEMKA hingga tahun 2003.
Pada tahun 2002 pria kelahiran Kudus 06 Agustus 1978 ini kembali menuai buah kerja keras dan ketekunanya, sejak juara kaligrafi cabang naskah di Banten yang mengantarkanya ke Tanah Suci Makkah hingga menyabet juara 1 kaligrafi se Asia Tenggara yang di helat di Brunei Darussalam. Karirnya melesat sukses, puluhan gelar juara kaligrafi tingkat kabupaten maupun provinsi berhasil ia rengkuh dengan gemilang. Hingga klimaksnya pada tahun 2003 ia berhasil merengkuh gelar juara kaligrafi naskah di DKI Jakarta, dan juara 1 MTQ Nasional di Palangkaraya Kalimantan Tengah.


Sosok yang Haus dan cinta Ilmu
Assiry adalah pribadi yang haus akan khazanah keilmuan, bagaimana tidak setelah menuai prestasi yang tidak henti-henti ia tidak cepat puas diri, kembali ia mengembarakan diri mendalami Tilawah (seni baca Al Qur’an) di bawah asuhan Ustadz Adli Asari Nasution, di warung Nangka Bogor. Selain terus giat belajar, Assiry juga mendirikan galeri seni lukis ANUGERAH ART di daerah Caringan Bogor bersama kader-kader binaanya. Disamping mendirikan galeri seni Assiry bersama teman-temanya sempat memproklamirkan KUASS atau Komunitas Seniman Kudus dan berhasil mengkader lebih dari 1500 kaligrafer dan seniman, kegiatanya meliputi pementasan drama kolosal hingga lomba tilawah dan kaligrafi. Disamping itu ia juga menambah pengetahuan dunia pendidikan dengan melanjutkan study di STAIN Kudus dengan mengambil jurusan tarbiyah 2007-2012.

Mendirikan pesantren seni
Pemuda asli desa Undaan lor ini termasuk sosok yang all aout, total dalam berkarya dan menekuni suatu bidang keilmuan. Di tahun 2006 ia kembali menyabet juara 1 di tingkat Asia Tenggara di Brunei Darussalam pada tiga cabang berbeda sekaligus yaitu khoth Tsulust, Diwani dan Riqah. Sepulangnya dari Brunei di tengah iming-iming hadiah dan tawaran menjadi PNS, muncul niatnya untuk mendirikan wadah atau pesantren yang berkonsentrasi pada bidang seni rupa dan kaligrafi. Ide ini muncul atas keprihatinanya terhadap perkembangan kaligrafi dan seni rupa di Jawa Tengah yang cenderung stagnan, disamping itu tidak adanya perhatian dari pemerintah khususnya LPTQ Jawa Tengah. Hingga akhirnya tepat di hari Rabu Wage tanggal 17 Januari 2007, Assiry memperkenalkan lahirnya Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Al Qur’an (PSKQ). Sebuah lembaga pendidikan pertama di Indonesia. Selain bergerak dalam bidang kaligrafi, para santrinya pun diajarkan berbagai disiplin ilmu sepertin seni murni, kreasi patung 3 dimensi hingga seni lukis teknik semprot airbrush.
Di tengah bergelimangnya prestasi yang ia dapatkan, Assiry memang sosok yang tidak cepat puas. Terbukti ia masih mempunyai cita-cita luhur dan mendamba mendirikan sebuah Universitas Seni Islam dan Kaligrafi pertama di Indonesia. Semoga !

Saturday, April 23, 2016

Ngaji bareng Cak Nun


Merawat Tanah Surga


Indonesia merupakan negeri kaya raya, berjajar indah dan berlimpah ruah sumber daya alam. Sejak dari tanah rencong Aceh, sampai bumi cendrawasih Papua di ujung timur. Kenyataan itu ditasbihkan dalam ungkapan gemah ripah loh jinawi. Grup band legedaris Koes Plus mengimajikan tanah negeri ini yang saking suburnya, “tongkat batu dan kayu jadi tanaman”. Bertahta manis di persimpangan jalur strategis perdagangan dunia dan diapit pula oleh dua benua, beriklim tropis nan hangat yang menjadikan tanahnya subur tak terkira, hingga menjadi rebutan dan idaman sejak zaman Kolonial hingga era globalisasi, modernisasi sekarang ini. 

Itu yang dijejakkan pada kita saat berkhidmat di sekolah. Suguhan itu termaktub dalam bab geografi, pendidikan kewarganegaraan, sejarah, dan keterangan guru.
MH Ainun Najib (Cak Nun), tegas menyatakan jika Negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan keindahan dan kekayaanya, dan cipratan kekayaan dan keindahanya itu bernama Indonesia Raya. Ungkapan ini klise lantaran kita hafal maksudnya, meski tetap mengundang penasaran untuk membuka kembali lembaran dalil soal surga. Dalam kitab suci, surga digambarkan serba indah sebagai imbalan pahala. Kita dapat Indonesia tanpa lakukan pahala apapun. Di sini pertanyannya.


Sayangnya, saat ini ungkapan itu hanya semacam mimpi yang kepalang tinggi. buktinya, kini lebih dari sepuluh juta rakyat Indonesia tidak memiliki pekerjaan alias nganggur dan berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini tidak lain disebabkan oleh sikap mental yang cepat puas dengan hasil kerja, etos kerja yang kurang menghargai kerja keras dan kurangnya pangetahuan mengenai kewirausahaan.
Kebanyakan masyarakat Indonesia, merasa enggan berwirausaha karena pola pikir (mindset) yang ada di otak mereka yaitu memulai suatu usaha haruslah mempunyai modal yang besar serta bakat dan keterampilan yang mumpuni. Di samping itu, adanya ketakutan akan resiko bisnis yang gagal dijalankan.

Padahal, jika kita menilik kisah para entrepreneur sukses sekaliber Bob Sadino, mereka biasa memulai usahanya dengan modal yang kecil bahkan seadanya, tapi berkat keuletan serta kesabaranya, mereka dapat mengembangkan usahanya menjadi usaha yang besar, sukses dan dikenal masyarakat luas. Sedangkan, kegagalan dalam berwirausaha adalah hal yang lumrah terjadi, menjadi sangat menggelikan jika kita cengeng dengan sebuah kegagalan.
Pepatah lama mengatakan, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Jadi tidaklah heran jika kita ingin sukses, maka kerikil-kerikil tajam dan sejuta aral melintang tak akan pernah mampu meluluhlantakkan semangat kita.

Kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung lebih menyenangi menjadi kaum-kaum berdasi berkantor gedung pencakar langit, menjadi buruh-buruh pabrik yang setiap tahun berdemo menuntut kesamaan dan kelayakan Upah Minimum Regional (UMR) dan juga menjadi pegawai negeri. Lebih tepatnya bangsa kita saat ini lebih menyenangi menghamba pada mereka yang bermodal.
Penelitan apik oleh Charles Scrciber memaparkan, keberhasilan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15 persen saja tetapi selebihnya (85 persen) ditentukan oleh sikap mental atau kepribadian seseorang. Sangat disayangkan bila limpahan sumber daya alam negeri ini tidak kita kelola sendiri, tetapi justru kita limpahkan ke tangan asing. Maka dari itu sudah sepatutnya kita menyingsihkan lengan baju dan bangkit untuk mengambil peran dalam mengelola kekayaan alam kita, sebagai mahasiswa kita harus jeli memanfaatkan peluang yang ada.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah berwirausaha. Dalam sebuah penelitian mengatakan, negara maju memerlukan sangat banyak unit usaha, dan kita harusnya diuntungkan dengan posisi kita yang berada di tanah subur makmur berlimpah kekayaan alam ini. Patutlah kita mulai berwirausaha, mengelola tanah kita sekaligus membuka lapangan-lapangan kerja. Tidak usah lagi menuntut di sediakanya lapangan kerja, namun kitalah yang mencipta lapangan kerja.

Sudah diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR RI/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004. Ketetapan itu berbunyi: “Mendayagunakan sumber dayaalam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang-undang”. Kita layak menyuara dan berkarya, sekali lagi untuk Indonesia.

Pernah tayang di Majalah Paradigma Edisi 28


Haghia Sophia Saksi Kejayaan Muslim di Eropa

Sejarah mencatat, Kota Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhamad Al Fatih pada tanggal 29 Mei 1453 M ( Jumadil Ula 587 H ).[1] Penaklukan ini menjadi sejarah penting bagi peradaban Islam, hal ini ditandai dengan berubahnya gereja Haghia Sophia menjadi masjid besar yang indah.  Dengan takluknya kota yang menjadi ibukota kerajaan Romawi Timur ini Islam semakin kuat berdiri di bumi benua biru “Eropa” setelah sebelumnya Isam sudah dahulu mendarat di Andalusia. Hal ini sangat beralasan karena jauh hari sebelum kota ini jatuh ke tangan umat Islam, Rasulullah sudah meramalkan peristiwa ini. Betapa tidak, beliau Nabi SAW memang betul-betul memuji sosok itu. Beliau bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”  [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah?
Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
Bisa dikatakan Kota Konstantinopel ini adalah kota yang sangat istimewa, yang menjadi klimaks kegemilangan sejarah Islam di bawah bendera kekaisaran Turki Ottoman.

Haghia Sophia
Hal pertama yang dilakukan umat Islam setelah berhasil menaklukan Konstantinopel saat itu adalah melakukan sujud syukur di Gereja Haghia Sophia. Hagia Sophia dibangun pada abad ke-6 Masehi di masa Kerajaan Bizantium Romawi. Selama berabad-abad, kerajaan Romawi di Bizantium menjadi pusat peradaban dunia. Hagia Sophia menjadi gereja ortodoks kebanggaan kaum nasrani yang menjadi penduduk Konstantinopel. 
Setelah kejatuhan Konstantinopel ke tangan Khilafah Turki Ustmani pada tahun 1453 Masehi, bukan hanya nama kota Konstantinopel yang diubah menjadi Islambul, kemudian menjadi Istanbul. Tapi juga fungsi Hagia Sophia diubah oleh Sultan Muhammad Al Fatih, atau dikenal dengan Sultan Muhammad II menjadi masjid.  Saat itu, begitu kota Konstantinopel jatuh pada hari Selasa 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al Fatih langsung turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid. Selang 3 hari setelah hari itu, yaitu di hari Jumat, umat Muslim sudah memulai menggunakannya untuk melaksanakan salat Jumat. yang belakangan oleh Sultan Muhamad Al-Fatih diubah menjadi Masjid. Selain merubah nama Konstantinopel menjadi Islambul atau Istanbul. Namun ketika kekhalifahan Turki Utsmani jatuh dan digantika pemerintahan Republik Turki oleh Mustafa Kema Pasha Attaturk, Haghia Sophia beralih fungsi menjadi museum.
Yalpin Topcu, Menteri Kebudayaan Turki baru-baru ini memberikan pernyataan akan memfungsikan kembali Haghia Sophia sebagai tempat peribadatan umat Islam.[2]          

Saksi
Haghia Sophia tidak hanya menjadi ikon peradaban saja, bangunan megah yang mendapat pengakuan situs warisan dunia dari UNESCO ini menjadi saksi peradaban Romawi dan Islam yang begitu hebat. Haghia Sophia bukan hanya sebuah mahakarya arsitektur, melainkan sebuah saksi gigihnya semangat pasukan muslim dalam merebut dan menembus benteng kota Konstantinopel yang maha kuat tersebut.
Banyak yang tidak tahu bahwa di dalam Hagia Sophia terdapat surat-surat dari khilafah Utsmaniyah yang berfungsi untuk menjamin, melindungi, dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pembawa suaka. Terdapat sekitar 10.000 sampel surat yang ditujukan maupun yang dikeluarkan kepada khalifah. Surat tertua ialah surat sertifikat tanah untuk para pengungsi Yahudi pada tahun 1519 yang lari dari inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam, Bani Umayyah di Andalusia.
Ada juga surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim khalifah Turki Ustmani pasca Revolusi Amerika abad ke-18, surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia pada 7 Agustus 1709, surat yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang beremigrasi ke Rusia pada tanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865) dan belakangan mereka kembali ke pangkuan khilafah, serta dokuemn peraturan bebas cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari suaka ke wilayah khilafah pasca Revolusi Bolshevik tanggal 25 Desember 1920 M.[3]
Bangunan ini menyimpan banyak sekali saksi kejayaan kerajaan Islam, dengan bukti banyaknya surat-surat tersebut. Kini bangunan itu kembali ramai diperbincangkan, tidak hanya Menteri Kebudayaan Turki. Bahkan Perdana Menteri Erdogan pun angkat bicara untuk memfungsikan kembali Haghia Sophia menjadi tempat peribadatan umat Islam.   


[1] Riza Nur Fitri, Penaklukan Konstantinopel, Skripsi UIN Sunan Kalijaga, 2012
[2] Republika, Turki Berencana Haghia Sophia Kembali dijadikan Masjid, Ahad 13 September 2015
[3] Ramdhan Muhaimin, Haghia Sophia : Saksi Bisu Kejayaan 2 Peradaban Turki, Islam dan Romawi, Detik.com, 12 Agustus 2013  

Wajah Isam (Kini) di Negeri Paman Sam

Warga dunia sempat digegerkan dengan sebuah statemen rasis. Dalam kampanyenya, Bakal calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, Senin (7/12/2015) waktu setempat, ia menyerukan pencegahan semua orang Muslim memasuki Amerika Serikat.[1]
Seakan Trump menaruh sikap kebencian yang amat dalam terhadap Islam, Hal ini dilatarbelakangi berbagai peristiwa yang membuat warga Amerika Serikat memberi stigma negatif terhadap muslim. Salah satunya adalah peristiwa serangan 11 September 2001, oleh kelompok militan Islam Al Qaeda pimpinan Osama Bin laden yang mengakibatkan runtuhnya Gedung World Trade Center di New York yang menjadi pusat ekonomi-bisnis dunia. Tragedi ini mengakibatkan trauma berkepanjangan terhadap umat Islam. Ini tentu saja bertolak belakang dengan ajaran Islam yang penuh cinta kasih.[2]
Maraknya peristiwa terorisme dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam tidak pelak menggelitik banyak orang untuk mempertanyakan kembali adagium Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin kasih sayang terhadap alam semesta. Agama Islam yang seharusnya menjadi penyemai perdamaian bagi umat manusia di muka bumi ternyata ditampilkan dengan wajah keras dan garang, bukan saja bagi non-Muslim tapi juga bagi sesama Muslim, melalui bahasa-bahasa jihad, kafir, bid’ah, sesat, dan lain sebagainya.[3] Namun kali ini saya tidak akan membahas mengenai bid’ah-bid’ah tersebut, melainkan melihat wajah Islam yang ditampilkan di benua putih Amerika Serikat.
Jika banyak Muslim bertanya-tanya apa gerangan yang salah dengan agama ini, lebih-lebih lagi Islam menuai citra negatif di kalangan non-Muslim, terutama mereka di dunia Barat yang banyak mengenal Islam dari pemberitaan media yang tidak sepenuhnya obyektif dan kadang ada media yang sengaja membesar-besarkan pemberitaan jikalau (dalam bahasa kasaranya) Islam yang terpojok sebagai tersangka.

Islam di Amerika
Amerika serikat menjadi salah satu negara non muslim yang berpenduduk muslim cukup besar, negara yang berada di benua amerika bagian utara ini berpenduduk muslim sebanyak  2,5 juta jiwa. Selain Rusia sebanyak 25 juta jiwa, Jerman sebanyak 4,5 juta, Prancis sebanyak 3,5 juta jiwa, Inggris sekitar 2 juta orang, dan Italia sebanyak 1,3 juta jiwa. Dan beberapa negara lainya, di negara ini juga bermunculan pusat-pusat pendidikan dan keagamaan Islam seperti Islamic Society of North America (ISNA) di kota New York sebagai organisasi Islam terbesar di Negara super power tersebut. Menurut penelitian dari Pew Research Center, dalam kurun beberapa waktu saja, muslim Amerika telah berkembang begitu pesat.[4]
Kota penting yang menjadi pusat berkembangnya Islam di Bumi Amerika adalah New York, selain menjadi pusat ISNA, berdiri juga Islamic Cultural Center of New York (Pusat Budaya Islam New York)  di sini banyak pula berdiri sekolah Islam, toko serta usaha milik umat Islam.[5]
Sekitar 99 persen muslim di Amerika adalah kaum intelektual bergelar sarjana, master hingga doktor, bahkan Muslim di sana sekarang sudah ikut memainkan peran politis dengan tampilnya dua senator di parlemen Negeri Suku Indian ini. Kini muslim di Amerika telah menunjukan geliat yang baik pasca serangkaian teror yang diawali serangan 11 september lalu. Awal-awal pasca serangan tersebut, penduduk muslim mendapat stereotip atau stigma negatif dari masyarakat non-muslim. Tak jarang perlakuan diskriminatif pun banyak dialami warga muslim di sana. 
Geliat Muslim
Pasca serangan 11 september 2001 lalu, terjadi titik balik yang membuat nama Islam semakin moncer di Amerika. Reaksi keras yang muncul pada waktu itu membuat Islam diperbincangkan dimana-mana. Hal ini menimbulkan keingintahuan masyarakat luas tentang ajaran yang dibawa Baginda Nabi Muhamad SAW ini, sehingga banyak yang mempelajari Islam dan pada akhirnya setiap pekan banyak warga Amerika yang mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Islamic Center New York.
Melihat peristiwa tersebut, akhirnya dapat kita petik sebuah hikmah. Bahwa kebenaran akan selalu menang dan dimenangkan, ini tidak hanya dalam cerita sinetron-sinetron saja. Islam yang ditampilkan sebegitu buruknya oleh “oknum” yang mengaku jihad fi sabilillah, akhirnya ketahuan bahwa Islam yang sebenarnya memang rahmatan lil alamin cinta kasih untuk semesta alam.



[1]http://internasional.kompas.com/read/2015/12/08/10100041/Donald.Trump.Larang.Semua.Orang.Muslim.Masuk.AS
[2] Lihat QS al-Baqarah [2]: 216. Islam adalah agama yang cinta damai. Karena itu, Islam sejatinya tidak suka perang. Perang hanyalah pintu darurat (emergency exit) yang tidak dikehendaki atau keterpaksaan.
[3] Machasin, 2011, Islam Dinamis Islam Historis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme, LKiS Yogyakarta, hlm 3

[4] Sri Wiyanti, Kisah Pesatnya Penyebaran Islam di Eropa dan Amerika, Merdeka.com, Kamis 2 April 2015
[5] Jane I Smith, Islam di Amerika, diterjemahkan oleh Siti Zuraida, Yayasan Obor , Jakarta, Hlm. 85

Sunday, April 17, 2016

Jepara Ocean Park



Jepara Ocean Park merupakan wisata bahari terbesar dan terlengkap di Jawa Tengah. Dengan bangunan yang mengusung tema istana rusia dan mediternia sehingga membuat tower seluncuran Jepara ocean Park unik dan berbeda dengan tower seluncuran lain di Indonesia, Jepara Ocean Park memiliki 36 slide waterpark. Diatas lahan seluas 11 Ha, Jepara Ocean Park mempunyai kapasitas 20.000 pengunjung.
Bukan hanya waterpark, Jepara Ocean Park juga memiliki banyak pilihan wahana permainan anak dan  wahana watersport karena letaknya yang ada dipesisir pantai Mororejo. Tapi meskipun terletak dipesisir pantai, tidak membuat suasana di Jepara Ocean Park terlihat gersang karena di setiap sudut area wisata kami memiliki taman dan area pepohonan hijau yang membuat suasana sejuk dan rindang


Sarapan Horok-horok


Horok-horok dibuat dari bahan baku sagu dengan proses pembuatan dikukus beberapa waktu hingga matang lalu didinginkan. Horok-horok adalah makanan yang selain memiliki nama yang aneh juga diproses dengan menggunakan alat yang sedikit aneh yaitu sisir rambut. Sisir rambut inlah yang menjadikan makanan horok-horok berbentuk seperti gabus yang kenyal dengan rasa sedikit asin dan berwarna putih bening.kemudian disajikan dengan sayuran seperti bayam, kecambah, kangkung, nangka muda dengan bumbu kacang. Kemudian dibungkus dengan daun jati.