Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Monday, July 11, 2016

Jembul Tulakan : Atraksi Budaya yang Mempesona

Indonesia ditakdirkan menjadi negara yang kaya raya. Melimpah ruah tersebar indah di bumi nusantara, dari karunia alam hingga warisan budaya. Di Jawa dikenal ada budaya sedekah bumi. Sedekah bumi menjadi sebuah ritual wujud syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Hampir di seluruh wilayah di Jawa menjalankan ini, namun ada kekhasan tersendiri di setiap daerahya. Keunikan pada setiap prosesi yang dijalankan menjadi pembeda antara sedekah bumi di daerah tertentu. Di beberapa daerah ritual sedekah bumi identik dengan iring-iringan gunungan yang berisi makanan dan hasil bumi.
Berbeda dengan di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara. Tradisi sedekah bumi ditandai dengan prosesi iring-iringan Jembul. Prosesi Jembul dimaknai sebagai langkah untuk mengingat laku tapa brata yang dilakukan oleh Nyai Ratu Kalinyamat di bukit Donorojo. Ini dilakukan sebagai aksi  menuntut keadilan atas kematian suaminya. Sunan Hadirin, yang dibunuh oleh Arya Penangsang.
Jembul merupakan perlambangan sumpah Nyai Ratu Kalinyamat yaitu ora pati-pati wudhar tapa ingsun, yen durung keramas getehe lan kramas keset jembule Aryo Panangsang. Yang berarti tidak akan menyudahi semedinya kalau belum keramas dengan darah dan keset rambut Aryo Penangsang.
Jembul sendiri merupakan usungan ancak (semacam tumpukan bambu yang disusun menyerupai gunungan) yang di dalamnya berisi makanan. Jembul terdiri dari dua jenis, yaitu jembul lanang dan jembul wadon. Jembul lanang dihiasi dengan iratan bambu tipis yang kemudian membentuk seperti gunungan dengan dihiasi golek (red: boneka) diatasnya. Sedangkan Jembul wadon tidak.
Arak-arakan berupa iratan bambu, yang sebelumnya diarak dari balai desa ke rumah kepala desa. Kemudian menjadi bahan rebutan masyarakat untuk ngalap berkah keberhasilan panen, dengan ditancapkan disudut-sudut sawah.
Prosesi sedekah bumi di desa Tulakan dimulai pada hari Kamis malam Jum’at, dilanjutkan Jum’at pagi dengan acara manganan di pertapaan Ratu Kalinyamat. Malam Ahad diisi dengan pengajian dan istighosah. Malam Senin diisi dengan pagelaran wayang kulit dan di hari Senin, puncak acara iring-iringan Jembul.
Ada empat jembul yang akan diarak dalam prosesi sedekah bumi ini, yang mana keempat jembul itu adalah perwakilan dari masing-masing dukuh. “Di setiap dukuh menampilkan Jembul dengan ikon dukuh masing-masing,” ungkap Hafid, Sekretaris Desa Tulakan.
Lebih lanjut ia menambahkan, Jembul dukuh Krajan dihias dengan sebuah boneka yang melambangkan Sayid Usman. Seorang abdi yang menemani pertapaan Ratu Kalinyamat yang dikemudian hari menyebarkan Islam di sekitar dukuh krajan. Kemudian ada dukuh Ngemplak dengan tokohnya Sutamangunjaya, dukuh Drojo dengan Ki Leseh dan dukuh Winong yang menampilkan semangat satria gagah perkasa dengan lambang barisan tentara.   
Menurut Hafid, ditetapkannya hari Senin Pahing bulan Dzulqo'dah. Konon hari tersebut bertepatan dengan datangnya Nayoko Projo dari Kalinyamatan. Kedatangannya  mengabarkan berita terbunuhnya Arya Penangsang, serta membawa darah dan rambut Arya Penangsang sebagai tanda bukti.

Pesona budaya
Tradisi ini menjadi sangat sakral, masyarakat menganggap ritual ini sangat penting dan pantang untuk ditinggalkan. Selain wujud syukur, sedekah bumi dengan prosesi arak-arak jembul dimaknai pula sebagai tradisi tolak bala.
Selain tradisi tolak bala, budaya yang diwariskan turun temurun ini menjadi perlambang kerukunan masyarakat desa. “Konon dalam arak-arakan Jembul pasti terjadi bentrok, namun setelah itu masalah usai dengan sendirinya,” jelas Hafid.
Tradisi Jembul Tulakan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar, atraksi yang heboh menjadikan jembul tulakan sebagai tontonan yang dinantikan. Tidak hanya warga Tulakan sendiri yang merasa memiliki budaya ini, masyarakat luas pun berbondong-bondong mengerumuni tontonan ini.
“Hari sedekah bumi di Tulakan menjadi hari libur tingkat desa, warga perantauan pun rela pulang kampung demi sebuah perayaan budaya ini, tidak ketinggalan siswa di  sekolah pun dipulangkan lebih awal, ketika perhelatan Jembul akan dimulai,” imbuh alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jendral Sudirman ini.

Pesona budaya dalam tradisi jembul tulakan ini, terbukti menarik perhatian masyarakat luas, di tahun kemarin (2015) ada beberapa warga negara Jepang yang turut hadir bersama dinas pariwisata dan kebudayaan Jepara. Ini menunjukan sebuah potensi wisata yang besar. Jembul tulakan memang layak dimasukkan sebagai paket wisata yang bisa mendongkrak pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Jepara.[]          

Monday, May 9, 2016

Tayuban : Cibiran, dan Ihwal Menjaga Lingkungan

Guru Besar Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Koentjaraningrat mengatakan, budaya merupakan suatu sistem gagasan, rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia diciptakan Tuhan dengan bekal akal dan budi, hingga mampu melahirkan dan mencipta sebuah karya tradisi yang adiluhung. Pada hakikatnya budaya memiliki nilai-nilai yang senantiasa diwariskan, ditafsirkan dan dilasanakan seiring dengan pola perubahan sosial kemasyarakatan.[1] 
Di kawasan pantai utara jawa (pantura) bagian timur yang meliputi daerah eks Karesidenan Pati memiliki sebuah tradisi dan kearifan lokal yang sarat nilai-nilai luhur. Tayuban adalah budaya luhur itu, sebuah tarian tradisional yang sedang terpinggirkan zaman. Tarian yang khas dan identik dengan sebuah perayaan dan ritus penting di masyarakat jawa.
Menurut teori R.M. Soedarsono dalam Jurnal Harmonia, tayub mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai sarana upacara, hiburan dan tontonan. Tayub dipertunjukkan pada berbagai hajat masyarakat terutama sebagai sarana upacara, seperti bersih desa, sedekah bumi hingga perkawinan.[2]
Sejarah Tayub dimulai sejak zaman Kerajaan Singosari kemudian berkembang hingga kerajaan Majapahit. Pada zaman kerajaan ini kesenian tayub merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara keselamatan bagi para pemimpin pemerintahan yang akan memangku jabatan baru, hingga pemberangkatan panglima ke medan laga. Perkembangan Tayub tidak hanya berpusara dalam bingkai kerajaan Hindu-Budha. Pada zaman kerajaan Demak pun eksistensi dan perkembangan Tayub tetap terjaga.[3]


Konon, Tarian Tayub menjadi bagian strategi dakwah walisongo kala itu. Sunan Kalijogo memberikan ruh keislaman dalam kesenian Tayuban dengan pemaknaan Toyyibah seperti halnya Jimat Kalimosodo yang diartikan sebagai Kalimat Syahadat. Sunan Kalijogo dengan kecerdikannya memberikan inovasi gerakan dalam tayuban agar lebih sufistik, jari kelingking, manis dan tengah tegak berdiri, sedangkan jari telunjuk dan jempol melingkar,  membentuk abstraksi lafal Allah. Disebutkan dalam sebuah literatur salah satu strategi dakwah walisongo di Jawa adalah dengan seni, selain media perdagangan, pernikahan, pendidikan dan tasawuf, hal ini tentunya memperkuat dugaan Tayuban sebagai media dakwah Sunan Kalijogo.
Tarian Tayub identik dengan pementasan berunsur magis, tayub kerap dihubungkan dengan danyang[4] desa misalnya.[5] Di beberapa daerah misalnya di Keling Jepara ritual Sedekah Bumi yang merupakan wujud syukur melimpahnya hasil panen dan keselamatan desa, selalu lekat dengan pementasan Tayub di punden.[6] Sedekah bumi berasal dari bahasa jawa yang berarti sedekah atau memberi sedangkan bumi itu sendiri berarti tanah, sehingga apabila kata tersebut dirangkai mrngandung pengertian yaitu memberi do’a serta melestarikan dan merawat bumi.
Sangat disayangkan, ketika zaman penjajahan Belanda, kesenian Tayub terpengaruh unsur negatif yang dibawa para penjajah. Adanya minum-minuman berakohol, dan perlakuan tidak senonoh dari penonton terhadap ledhek atau penari tayub. Hingga Tayuban sering dikonotasikan negatif. Clifford Geerzt dalam Religion of Java bahkan mencatat bahwa ledek dianggap sebagai pelacur (kledek teledhek is almost always a prostitute). Tidak jauh berbeda Raflles dalam bukunya The History Of Java menggambarkan penari Tayub mendapat stigma negatif, hampir semua bisa diajak tidur oleh lelaki berduit. Hal ini menambah kesan kemiringan salah satu tari tradisional Indonesia.   
Menjaga Lingkungan
Kearifan lokal tidak hanya ritual ceremony belaka, begitupun dengan Tarian Tayub yang begitu mengakar di kehidupan masyarakat agraris Jawa. Tradisi Tayuban yang terbingkai dalam laku Sedekah Bumi mewujud sebagai kearifan lokal yang ada di kawasan pantura bagian timur. Kearifan lokal tidak hanya bicara tentang keunikan seni dan budaya. Namun lebih dari pada itu, menjaga kearifan lokal adalah ihwal menjaga lingkungan. Menurut UU No.32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup BAB I Pasal 1 butir 30 menyebutkan “nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari”.[7]
Tarian Tayub identik dengan prosesi ritual Sedekah Bumi, dalam prosesi yang berlangsung setahun sekali, pada acara puncak perayaan selalu disuguhkan pementasan Tari Tayub.  Menjaga tradisi adalah ihwal menjaga bumi, menjaga keberlangsungan lingkungan hidup, seperti yang termaktub dalam prosesi sedekah bumi sebagai wujud syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Anugrah alam yang menghidupi mereka, selalu ada Tayub didalamnya. Dan ketika manusia tetap teguh menjaga kearifan lokalnya (Sedekah Bumi) Tarian Tayub pun akan tetap terjaga. Hemat penulis, laku menjaga keseimbangan dalam ritus sedekah bumi sama halnya laku bertayuban, laku menjaga dan cinta lingkungan.   



[1]Rasid Yunus,  Nilai-Nilai Kearifan Lokal  (Local Genius)  Sebagai Penguat Karakter Bangsa  Studi Empiris Tentang Huyula, Deepublish,  Sleman, 2014, hlm. 2.
Lihat juga Hari Poerwanto,  Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi.Pustaka Pelajar , Yogyakarta, 2000., hlm. 52.
[2] Agus Cahyono, Pola Pewarisan Nilai-nilai Tayub, Jurnal Harmonia, Vol VII, 2006, hlm. 27    
[3] Siti Nur Fitria, Kesenian Tayub di Masyarakat, Artikel Ilmiah, Universitas Airlangga Surabaya,  2015, hlm 3
[4] Danyang merupakan leluhur desa, dalam kepercayaan orang Jawa dianggap sebagai perintis adanya desa tersebut atau orang pertama yang berdiam disitu 
[5] M.Ridwan dan Miftahudin, “Geliat Tayub Pati” ,  Majalah Paradigma, Edisi 2013, hlm. 59.
[6] Punden merupakan  tempat yang di yakini  persemayaman  atau makam  leluhur yang dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat 

Saturday, April 23, 2016

Merawat Tanah Surga


Indonesia merupakan negeri kaya raya, berjajar indah dan berlimpah ruah sumber daya alam. Sejak dari tanah rencong Aceh, sampai bumi cendrawasih Papua di ujung timur. Kenyataan itu ditasbihkan dalam ungkapan gemah ripah loh jinawi. Grup band legedaris Koes Plus mengimajikan tanah negeri ini yang saking suburnya, “tongkat batu dan kayu jadi tanaman”. Bertahta manis di persimpangan jalur strategis perdagangan dunia dan diapit pula oleh dua benua, beriklim tropis nan hangat yang menjadikan tanahnya subur tak terkira, hingga menjadi rebutan dan idaman sejak zaman Kolonial hingga era globalisasi, modernisasi sekarang ini. 

Itu yang dijejakkan pada kita saat berkhidmat di sekolah. Suguhan itu termaktub dalam bab geografi, pendidikan kewarganegaraan, sejarah, dan keterangan guru.
MH Ainun Najib (Cak Nun), tegas menyatakan jika Negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan keindahan dan kekayaanya, dan cipratan kekayaan dan keindahanya itu bernama Indonesia Raya. Ungkapan ini klise lantaran kita hafal maksudnya, meski tetap mengundang penasaran untuk membuka kembali lembaran dalil soal surga. Dalam kitab suci, surga digambarkan serba indah sebagai imbalan pahala. Kita dapat Indonesia tanpa lakukan pahala apapun. Di sini pertanyannya.


Sayangnya, saat ini ungkapan itu hanya semacam mimpi yang kepalang tinggi. buktinya, kini lebih dari sepuluh juta rakyat Indonesia tidak memiliki pekerjaan alias nganggur dan berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini tidak lain disebabkan oleh sikap mental yang cepat puas dengan hasil kerja, etos kerja yang kurang menghargai kerja keras dan kurangnya pangetahuan mengenai kewirausahaan.
Kebanyakan masyarakat Indonesia, merasa enggan berwirausaha karena pola pikir (mindset) yang ada di otak mereka yaitu memulai suatu usaha haruslah mempunyai modal yang besar serta bakat dan keterampilan yang mumpuni. Di samping itu, adanya ketakutan akan resiko bisnis yang gagal dijalankan.

Padahal, jika kita menilik kisah para entrepreneur sukses sekaliber Bob Sadino, mereka biasa memulai usahanya dengan modal yang kecil bahkan seadanya, tapi berkat keuletan serta kesabaranya, mereka dapat mengembangkan usahanya menjadi usaha yang besar, sukses dan dikenal masyarakat luas. Sedangkan, kegagalan dalam berwirausaha adalah hal yang lumrah terjadi, menjadi sangat menggelikan jika kita cengeng dengan sebuah kegagalan.
Pepatah lama mengatakan, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Jadi tidaklah heran jika kita ingin sukses, maka kerikil-kerikil tajam dan sejuta aral melintang tak akan pernah mampu meluluhlantakkan semangat kita.

Kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung lebih menyenangi menjadi kaum-kaum berdasi berkantor gedung pencakar langit, menjadi buruh-buruh pabrik yang setiap tahun berdemo menuntut kesamaan dan kelayakan Upah Minimum Regional (UMR) dan juga menjadi pegawai negeri. Lebih tepatnya bangsa kita saat ini lebih menyenangi menghamba pada mereka yang bermodal.
Penelitan apik oleh Charles Scrciber memaparkan, keberhasilan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15 persen saja tetapi selebihnya (85 persen) ditentukan oleh sikap mental atau kepribadian seseorang. Sangat disayangkan bila limpahan sumber daya alam negeri ini tidak kita kelola sendiri, tetapi justru kita limpahkan ke tangan asing. Maka dari itu sudah sepatutnya kita menyingsihkan lengan baju dan bangkit untuk mengambil peran dalam mengelola kekayaan alam kita, sebagai mahasiswa kita harus jeli memanfaatkan peluang yang ada.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah berwirausaha. Dalam sebuah penelitian mengatakan, negara maju memerlukan sangat banyak unit usaha, dan kita harusnya diuntungkan dengan posisi kita yang berada di tanah subur makmur berlimpah kekayaan alam ini. Patutlah kita mulai berwirausaha, mengelola tanah kita sekaligus membuka lapangan-lapangan kerja. Tidak usah lagi menuntut di sediakanya lapangan kerja, namun kitalah yang mencipta lapangan kerja.

Sudah diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR RI/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004. Ketetapan itu berbunyi: “Mendayagunakan sumber dayaalam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang-undang”. Kita layak menyuara dan berkarya, sekali lagi untuk Indonesia.

Pernah tayang di Majalah Paradigma Edisi 28


Haghia Sophia Saksi Kejayaan Muslim di Eropa

Sejarah mencatat, Kota Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhamad Al Fatih pada tanggal 29 Mei 1453 M ( Jumadil Ula 587 H ).[1] Penaklukan ini menjadi sejarah penting bagi peradaban Islam, hal ini ditandai dengan berubahnya gereja Haghia Sophia menjadi masjid besar yang indah.  Dengan takluknya kota yang menjadi ibukota kerajaan Romawi Timur ini Islam semakin kuat berdiri di bumi benua biru “Eropa” setelah sebelumnya Isam sudah dahulu mendarat di Andalusia. Hal ini sangat beralasan karena jauh hari sebelum kota ini jatuh ke tangan umat Islam, Rasulullah sudah meramalkan peristiwa ini. Betapa tidak, beliau Nabi SAW memang betul-betul memuji sosok itu. Beliau bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”  [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah?
Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
Bisa dikatakan Kota Konstantinopel ini adalah kota yang sangat istimewa, yang menjadi klimaks kegemilangan sejarah Islam di bawah bendera kekaisaran Turki Ottoman.

Haghia Sophia
Hal pertama yang dilakukan umat Islam setelah berhasil menaklukan Konstantinopel saat itu adalah melakukan sujud syukur di Gereja Haghia Sophia. Hagia Sophia dibangun pada abad ke-6 Masehi di masa Kerajaan Bizantium Romawi. Selama berabad-abad, kerajaan Romawi di Bizantium menjadi pusat peradaban dunia. Hagia Sophia menjadi gereja ortodoks kebanggaan kaum nasrani yang menjadi penduduk Konstantinopel. 
Setelah kejatuhan Konstantinopel ke tangan Khilafah Turki Ustmani pada tahun 1453 Masehi, bukan hanya nama kota Konstantinopel yang diubah menjadi Islambul, kemudian menjadi Istanbul. Tapi juga fungsi Hagia Sophia diubah oleh Sultan Muhammad Al Fatih, atau dikenal dengan Sultan Muhammad II menjadi masjid.  Saat itu, begitu kota Konstantinopel jatuh pada hari Selasa 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al Fatih langsung turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid. Selang 3 hari setelah hari itu, yaitu di hari Jumat, umat Muslim sudah memulai menggunakannya untuk melaksanakan salat Jumat. yang belakangan oleh Sultan Muhamad Al-Fatih diubah menjadi Masjid. Selain merubah nama Konstantinopel menjadi Islambul atau Istanbul. Namun ketika kekhalifahan Turki Utsmani jatuh dan digantika pemerintahan Republik Turki oleh Mustafa Kema Pasha Attaturk, Haghia Sophia beralih fungsi menjadi museum.
Yalpin Topcu, Menteri Kebudayaan Turki baru-baru ini memberikan pernyataan akan memfungsikan kembali Haghia Sophia sebagai tempat peribadatan umat Islam.[2]          

Saksi
Haghia Sophia tidak hanya menjadi ikon peradaban saja, bangunan megah yang mendapat pengakuan situs warisan dunia dari UNESCO ini menjadi saksi peradaban Romawi dan Islam yang begitu hebat. Haghia Sophia bukan hanya sebuah mahakarya arsitektur, melainkan sebuah saksi gigihnya semangat pasukan muslim dalam merebut dan menembus benteng kota Konstantinopel yang maha kuat tersebut.
Banyak yang tidak tahu bahwa di dalam Hagia Sophia terdapat surat-surat dari khilafah Utsmaniyah yang berfungsi untuk menjamin, melindungi, dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pembawa suaka. Terdapat sekitar 10.000 sampel surat yang ditujukan maupun yang dikeluarkan kepada khalifah. Surat tertua ialah surat sertifikat tanah untuk para pengungsi Yahudi pada tahun 1519 yang lari dari inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam, Bani Umayyah di Andalusia.
Ada juga surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim khalifah Turki Ustmani pasca Revolusi Amerika abad ke-18, surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia pada 7 Agustus 1709, surat yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang beremigrasi ke Rusia pada tanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865) dan belakangan mereka kembali ke pangkuan khilafah, serta dokuemn peraturan bebas cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari suaka ke wilayah khilafah pasca Revolusi Bolshevik tanggal 25 Desember 1920 M.[3]
Bangunan ini menyimpan banyak sekali saksi kejayaan kerajaan Islam, dengan bukti banyaknya surat-surat tersebut. Kini bangunan itu kembali ramai diperbincangkan, tidak hanya Menteri Kebudayaan Turki. Bahkan Perdana Menteri Erdogan pun angkat bicara untuk memfungsikan kembali Haghia Sophia menjadi tempat peribadatan umat Islam.   


[1] Riza Nur Fitri, Penaklukan Konstantinopel, Skripsi UIN Sunan Kalijaga, 2012
[2] Republika, Turki Berencana Haghia Sophia Kembali dijadikan Masjid, Ahad 13 September 2015
[3] Ramdhan Muhaimin, Haghia Sophia : Saksi Bisu Kejayaan 2 Peradaban Turki, Islam dan Romawi, Detik.com, 12 Agustus 2013  

Wajah Isam (Kini) di Negeri Paman Sam

Warga dunia sempat digegerkan dengan sebuah statemen rasis. Dalam kampanyenya, Bakal calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, Senin (7/12/2015) waktu setempat, ia menyerukan pencegahan semua orang Muslim memasuki Amerika Serikat.[1]
Seakan Trump menaruh sikap kebencian yang amat dalam terhadap Islam, Hal ini dilatarbelakangi berbagai peristiwa yang membuat warga Amerika Serikat memberi stigma negatif terhadap muslim. Salah satunya adalah peristiwa serangan 11 September 2001, oleh kelompok militan Islam Al Qaeda pimpinan Osama Bin laden yang mengakibatkan runtuhnya Gedung World Trade Center di New York yang menjadi pusat ekonomi-bisnis dunia. Tragedi ini mengakibatkan trauma berkepanjangan terhadap umat Islam. Ini tentu saja bertolak belakang dengan ajaran Islam yang penuh cinta kasih.[2]
Maraknya peristiwa terorisme dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam tidak pelak menggelitik banyak orang untuk mempertanyakan kembali adagium Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin kasih sayang terhadap alam semesta. Agama Islam yang seharusnya menjadi penyemai perdamaian bagi umat manusia di muka bumi ternyata ditampilkan dengan wajah keras dan garang, bukan saja bagi non-Muslim tapi juga bagi sesama Muslim, melalui bahasa-bahasa jihad, kafir, bid’ah, sesat, dan lain sebagainya.[3] Namun kali ini saya tidak akan membahas mengenai bid’ah-bid’ah tersebut, melainkan melihat wajah Islam yang ditampilkan di benua putih Amerika Serikat.
Jika banyak Muslim bertanya-tanya apa gerangan yang salah dengan agama ini, lebih-lebih lagi Islam menuai citra negatif di kalangan non-Muslim, terutama mereka di dunia Barat yang banyak mengenal Islam dari pemberitaan media yang tidak sepenuhnya obyektif dan kadang ada media yang sengaja membesar-besarkan pemberitaan jikalau (dalam bahasa kasaranya) Islam yang terpojok sebagai tersangka.

Islam di Amerika
Amerika serikat menjadi salah satu negara non muslim yang berpenduduk muslim cukup besar, negara yang berada di benua amerika bagian utara ini berpenduduk muslim sebanyak  2,5 juta jiwa. Selain Rusia sebanyak 25 juta jiwa, Jerman sebanyak 4,5 juta, Prancis sebanyak 3,5 juta jiwa, Inggris sekitar 2 juta orang, dan Italia sebanyak 1,3 juta jiwa. Dan beberapa negara lainya, di negara ini juga bermunculan pusat-pusat pendidikan dan keagamaan Islam seperti Islamic Society of North America (ISNA) di kota New York sebagai organisasi Islam terbesar di Negara super power tersebut. Menurut penelitian dari Pew Research Center, dalam kurun beberapa waktu saja, muslim Amerika telah berkembang begitu pesat.[4]
Kota penting yang menjadi pusat berkembangnya Islam di Bumi Amerika adalah New York, selain menjadi pusat ISNA, berdiri juga Islamic Cultural Center of New York (Pusat Budaya Islam New York)  di sini banyak pula berdiri sekolah Islam, toko serta usaha milik umat Islam.[5]
Sekitar 99 persen muslim di Amerika adalah kaum intelektual bergelar sarjana, master hingga doktor, bahkan Muslim di sana sekarang sudah ikut memainkan peran politis dengan tampilnya dua senator di parlemen Negeri Suku Indian ini. Kini muslim di Amerika telah menunjukan geliat yang baik pasca serangkaian teror yang diawali serangan 11 september lalu. Awal-awal pasca serangan tersebut, penduduk muslim mendapat stereotip atau stigma negatif dari masyarakat non-muslim. Tak jarang perlakuan diskriminatif pun banyak dialami warga muslim di sana. 
Geliat Muslim
Pasca serangan 11 september 2001 lalu, terjadi titik balik yang membuat nama Islam semakin moncer di Amerika. Reaksi keras yang muncul pada waktu itu membuat Islam diperbincangkan dimana-mana. Hal ini menimbulkan keingintahuan masyarakat luas tentang ajaran yang dibawa Baginda Nabi Muhamad SAW ini, sehingga banyak yang mempelajari Islam dan pada akhirnya setiap pekan banyak warga Amerika yang mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Islamic Center New York.
Melihat peristiwa tersebut, akhirnya dapat kita petik sebuah hikmah. Bahwa kebenaran akan selalu menang dan dimenangkan, ini tidak hanya dalam cerita sinetron-sinetron saja. Islam yang ditampilkan sebegitu buruknya oleh “oknum” yang mengaku jihad fi sabilillah, akhirnya ketahuan bahwa Islam yang sebenarnya memang rahmatan lil alamin cinta kasih untuk semesta alam.



[1]http://internasional.kompas.com/read/2015/12/08/10100041/Donald.Trump.Larang.Semua.Orang.Muslim.Masuk.AS
[2] Lihat QS al-Baqarah [2]: 216. Islam adalah agama yang cinta damai. Karena itu, Islam sejatinya tidak suka perang. Perang hanyalah pintu darurat (emergency exit) yang tidak dikehendaki atau keterpaksaan.
[3] Machasin, 2011, Islam Dinamis Islam Historis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme, LKiS Yogyakarta, hlm 3

[4] Sri Wiyanti, Kisah Pesatnya Penyebaran Islam di Eropa dan Amerika, Merdeka.com, Kamis 2 April 2015
[5] Jane I Smith, Islam di Amerika, diterjemahkan oleh Siti Zuraida, Yayasan Obor , Jakarta, Hlm. 85

Saturday, March 26, 2016

Pendidik Bukan (Hanya) Mendidik

Hari ini kita begitu banyak disuguhi tontonan dan fenomena memalukan sekaligus memilukan dari dunia pendidikan. Dunia yang menjadi tumpuan dan harapan bersemainya nilai-nilai luhur dan budi pekerti, dunia dimana nasib bangsa ini akan menuai kemajuan berperadaban. Tentunya ingatan kita masih fresh dengan berbagai persoalan-persolan yang terjadi di tanah air ini, yang kian hari semakin bertambah semrawut dan menambah benang kusut pendidikan kita. Persoalan-persoalan ini bukan hanya di cerminkan oleh peserta didik seperti bolos sekolah, mabuk-mabukan, sex bebas hingga tawuran yang sampai menewaskan salah satu siswa SMK di Jakarta Selatan tahun 2012 silam.[1] Hal yang hampir serupa juga pernah terjadi, dimana persoalan cinta berujung  bentrok yang melibatkan siswa MA Darul Falah Sirahan Pati dengan siswa SMKN 1 Cluwak Pati tahun 2011.[2] Tidak hanya itu, keburukan-keburukan tersebut tidak semata dipertontonkan oleh siswa melainkan di pertontonkan pula oleh para pendidiknya, oknum guru.[3]

Guru sebagai model
Para guru yang seharusnya menjadi sosok teladan/ Uswah Hasanah ini nyatanya malah memperlihatkan perilaku yang tidak sesuai dengan filosofi jawa seorang guru, yaitu digugu lan ditiru. Beberapa oknum pendidik di sekolah (meskipun tidak semuanya) justru melakukan tindak kekerasan dan pelecehan seksual terhadap muridnya, yang semakin marak dewasa ini. Sungguh ironis memang, sekolah yang merupakan tempat belajar yang menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk bagi siswanya.
Belum juga masalah ini usai, di tambah lagi dengan carut marut mengenai ujian nasional. Ujian yang di gadang-gadang menjadi proses final kelulusan siswa malah erat sekali dengan tindakan-tindakan kecurangan, dan ironisnya kecurangan itu adalah kerjasama antara pendidik dan peserta didik. Bahkan sejuta cara distempel halal oleh pendidik, guna meluluskan siswanya seperti menyuplai contekan hingga membeli kunci jawaban ujian nasional. Hal ini membuktikan betapa merosotnya pendidikan moral tentang kejujuran dan kerja keras yang dipertontonkan langsung didepan anak didiknya.
Bandura  yang dikutip oleh Sigit Setyawan dalam bukunya Guruku Panutanku, mengemukakan bahwa, salah satu tumpuan teori kognitif sosial adalah modeling. Model menjadi perhatian utama teori kognitif sosial karena pada prinsipnya pembelajaran dalam konteks ini melibatkan pengamatan terhadap model. Segala sesuatu yang dipelajari dari pengalaman langsung juga dapat dipelajari dari pengalaman tidak langsung, yaitu modeling.[4]
Jika menilik hal tersebut, guru adalah model bagi anak didiknya, dan bayangkan, apa yang akan terjadi jika guru memodelkan hal yang tak sepantasnya. Peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Makna dari peribahasa tersebut adalah siswa mengikuti perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh gurunya, bahkan lebih buruk lagi. Dapat dipahami bahwa pengalaman tidak langsung yang diperoleh siswa dari perilaku guru tersebut justru lebih mudah diterima dan ditiru. Karena hampir semua perilaku guru akan menjadi teladan /model (uswah hasanah) bagi anak didiknya.[5] Hal ini selaras dengan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhamad SAW, sebagai guru beliau amat menekankan keteladanan dan akhlak mulia. Jika Rasul menyuruh melakukan sesuatu, beliau orang pertama yang akan melakukanya sebelum orang lain. Keteladanan atau model lebih memudahkan pemahaman dan ingatan, ketimbang sebatas ucapan dan penjelasan.[6]



Peran Guru
Sejatinya guru mempunyai banyak peran, tidak hanya dalam lingkup instansi sekolah melainkan dalam ranah sosial kemasyarakatan. Peran guru disamping menjadi seorang pendidik adalah menjadi pengajar, pembimbing dan model atau teladan.[7] Dalam dunia pendidikan guru tidak hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Artinya guru tidak hanya berkewajiban secara formal menanamkan ilmu pengetahuan, sejatinya lebih dari itu guru berkewajiban menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Ada beberapa poin yang seharusnya diperhatikan oleh guru, karena itu merupakan perananya dalam ranah pendidikan. diantaranya :
1.      Guru sebagai pengasuh
Guru seharusnya juga berperan sebagai pengasuh dengan kelembutan hati, sebab dengan kelembutan hatinya ini bukan tidak mungkin anak didiknya akan mudah tersentuh. Karena memang guru harus menempatkan diri menjadi orang tua siswa.
2.      Guru harus mengabdi
Keikhlasan dan totalitas guru dalam mengajar patut menjadi prioritas utama, karena dengan keikhlasan dan totalitas tersebut pengabdian guru akan maksimal dan menelurkan lulusan yang bermutu dan berakhlakul karimah. Menurunya prestasi anak sekolah sekarang ini, dalam hal akhlak bukan tidak mungkin disebabkan karena ketidak ikhlasan para guru dalam mengajar.
Hal terbesar yang menjadi pekerjaan rumah bagi para pendidik adalah mengembalikan nilai-nilai yang telah melekat pada diri para pendidik itu sendiri, yaitu sosok yang patut untuk digugu lan ditiru. Guru adalah cerminan cahaya masa depan bangsa, karena ditanganya ini anak-anak pembangunan masa depan akan menerima suapan-suapan ilmu, budi pekerti dan nilai-nilai moral yang nantinya akan menjadi bekal penting ditengah zaman edan ini.
Belajar dari Ki Hajar
Sebagai pribadi yang multi peran, tidak hanya mendidik saja, guru perlu belajar dari salah satu ajaran Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan nasional kita yang sangat populer yaitu : “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin atau guru harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat.
Jadi makna dari kata tersebut berarti seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk keamanan dan kenyamanan.
Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga arti dari Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita.[8]
Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang – orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat. Sehingga kita (pendidik) dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat, dan ajaran Ki Hajar Dewantara ini sudah sepatutnya mendarah daging disetiap insan pendidik.


[2] Hasil wawancara dengan Muhamad Khoirul Multazam pada  bulan Agustus 2011
[4] Sigit Setyawan, Guruku Panutanku, Kanisius, Yogyakarta, 2013, hlm. 14
[5] Ahmad Halimi, dkk. 2015. Resume Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan : Peranan Guru di sekolah dan Masyarakat. Hlm 1
[6] Abdul Fatah Abu Ghuddah,  Muhamad Sang Guru, Menyibak rahasia cara mengajar rasulullah diterjemahkan dari  Ar-Rasul al-Mu’allimin wa Asalibuhu fi at-Ta’lim oleh Agus Khudlori, Armasta,  Temanggung, 2015,  hlm 81-82
[7] Mulyasa, Menjadi Guru Profesional,  Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009,  hlm. 37-47